Kamis, 01 Maret 2012

Bimasakti Kaya Planet Yatim Piatu

CALIFORNIA, KOMPAS.com - Galaksi Bimasakti memiliki lebih dari 100.000 planet yatim piatu atau planet nomad, alias planet yang tidak mengorbit bintang induk tertentu. Hal tersebut diketahui dari ekstrapolasi hasil observasi planet yang dilakukan dengan metode gravitational microlensing, melihat pengaruh gravitasi planet pada cahaya bintang.

Louis Strigari, ilmuwan dari Kavli Institute di Stanford University dan rekannya mendeteksi objek yang terdapat di Bimasakti, mulai dari yang sebesar Jupiter hingga sekecil Pluto. Berdasarkan hasil studi, ilmuwan menemukan bahwa tak ada cukup tata surya yang mempu menaungi seluruh planet yang ada, sehingga planet yatim piat umum.

Printronix P7000 Versi Cartridge Lebih Hemat Biaya



JAKARTA, KOMPAS.com - Mesin pencetak Printronix P7000 Cartridge Series telah diluncurkan di Indonesia oleh Astragraphia melalui divisi Printer Channel Business (PCB). Printer dengan teknologi line matrix ini diklaim memiliki cartridge dengan usia yang panjang, hingga 90 juta karakter.

Jika Printronix generasi sebelumnya menggunakan pita spool, maka P7000 Cartridge Series ini memiliki wadah pita berupa cartridge dengan daya tahan lebih lama. Harga cartridge-nya sendiri dibanderol sekitar Rp 300 ribu.

"Dibandingkan dengan generasi sebelumnya, penghematan biaya yang ditanggung perusahaan bisa mencapai 20% per halaman," ujar K. Teguh Santoso, Chief Executive PCB Astragraphia, saat meluncurkan Printronix P7000 Cartridge Series di Jakarta, Kamis (1/3/2012).

Fosil Kutu Raksasa Zaman Dinosaurus

Fosil kutu purba

PARIS, KOMPAS.com - Ternyata, kutu sudah mendiami bumi sejak zaman dinosaurus. Pada 150 juta tahun lalu, dinosaurus hidup berdampingan dengan kutu rakus darah berukuran raksasa. Palaentolog asal Cina dan Perancis menemukan fosil kutu tersebut di wilayah Inner Mongolia dan propinsi Liaoning. Sejumlah lebih dari 9 fosil kutu itu ditemukan.

Bila kutu saat ini hanya berukuran kurang lebih 5 mm, maka kutu purba betina yang ditemukan berukuran lebih besar. Betinanya berukuran 2 cm sementara yang jantan berukuran 1,5 cm. Studi juga mengungkap bahwa kutu purba ternyata tak memiliki sayap. Tak seperti kutu saat ini, kutu purba juga tak mampu melompat dan memiliki mulut yang kecil.

Kutu purba beradaptasi sangat baik dengan lingkungannya. Kutu ini memiliki cakar cukup tajam untuk bertahan di permukaan tubuh reptil saat itu. Kutu juga memiliki struktur penghisap darah. Kutu adalah salah satu hewan yang mampu beradaptasi dengan baik saat dinosaurus punah. Dari reptil, kutu purba mulai menghisap darah mamalia. Dalam proses evolusi, ukuran kutu kemudian mengecil.

Studi yang dipimpin oleh Andre Nel dari National Museum of Natural History Paris ini dipublikasikan di jurnal Nature, Rabu (29/2/2012).

Nokia 808 PureView Pendatang Baru Terbaik MWC 2012

Nokia PureView di Barcelona

BARCELONA, KOMPAS.com - Nokia 808 PureView yang dilaunching Senin lalu, Kamis (1/3/2012) ini menyabet penghargaan sebagai best new mobile handset, devices, or tablet pada ajang Mobile World Congress 2012 di Barcelona, Spanyol.
PureView mengalahkan semua jenis seluler dan tablet baru yang diluncurkan di Mobile World Congress. Ini adalah penghargaan keenam yang diperoleh Nokia pada Mobile World Congress 2012.
Sebelumnya, tiga penghargaan diperoleh telepon pintar Nokia Lumia 610, satu penghargaan untuk Nokia C3, dan satu penghargaan untuk layanan Nokia sebagai mobile education.
Nokia 808 PureView yang berbasis Symbian Nokia Belle dilengkapi kamera Carl Zeis dengan sensor optik 41 megapiksel, dan menjadi kamera resolusi tertinggi pada smartphone. Vice President, Product Marketing Smart Devices Nokia Ilari Nurmi mengatakan, PureView memberikan pengalaman baru pada konsumen.
"Dengan resolusi sangat tinggi dan kualitas gambar yang tetap bagus saat dikrop, pengguna bisa melihat banyak realitas yang tidak terlihat mata saat gambar diambil," ujar Nurmi. 

Satu Lagi Bayi Gajah Lahir di Taman Safari

Bayi gajah seberat 76,5 kilogram dengan tinggi 85 cm itu, dinamai Januar, karena lahir di bulan Januari.



BOGOR, KOMPAS.com - Lahirnya seekor anak gajah berkelamin jantan, menambah koleksi satwa di Taman Safari Indonesia Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Humas TSI Cisarua, Yulius H Suprihardo, Kamis (1/3/2012) mengatakan bahwa bayi gajah itu adalah anak dari pasangan gajah betina bernama Nila yang berusia 51 tahun serta gajah jantan bernama David yang 8 tahun lebih muda.
"Kelahiran gajah pada Senin (27/2) malam pukul 22.10 WIB itu berjalan normal dan bayi gajah sampai saat ini dalam kondisi sehat," jelas Yulius.
Anak gajah yang belum diberi nama dengan berat 96 kg itu, mempunyai tinggi badan 94 cm dengan panjang badan 98 cm. Sementara, lingkar dada bayi gajah adalah 103 cm, lingkar kaki depan 50 cm dan lingkar kaki belakang 51 cm
Sejak lahir, bayi gajah terlihat menyusu pada induknya etiap 3 menit sekali. Sahri dan Agus, keeper gajah tersebut, setiap hari memberi makan berupa 5 kg kacang tanah, 5 kg kacang panjang, 5 kg wortel dan buah-buahan. Kesehatan anak gajah ini masih terus diawasi.
Bayi gajah ini sebentar lagi juga akan memiliki teman. Induk gajah lain yang bernama Marsini juga akan melahirkan anakan dalam waktu dekat.